11. Raden Sudjana / Lembu Niroto - Gwezenn klok

Eus Rodovid BR
Den:733607
Ezhomm en deus hor servijer eus kalz loazioù evit diskwel gwezennoù bras. Setu perak ne c'hall gwelout an arvererien dizanv nemet 7 remziad diagentidi ha 7 remziad diskennidi en ur wezenn. Ma vennit gwelout ul lignez a-bezh hep enskrivadur, ouzhpennit an testenn ?showfulltree=yes e dibenn chomlec'h URL ar bajenn-mañ. Mar plij, ne lakait e neblec'h all ebet ul liamm eeun ouzh ur wezenn a-bezh.

Ar wezenn-mañ a vod: 87 tiegezh evit 247 a dud eus 28 lignez. 45 eus an dud-man az a d'ober ar strollad kreiz (diagentidi – den pennañ – diskennidi). Kuzhet eo 49 tiegezh gant 40 a dud.

1
Akarendrawarman
titl: 1316, Raja Dharmasraya
Prabu Dharmakusuma
titl: 1156 - 1175, Raja Sunda Ke-24
marvidigezh: 1175
Panji Tohjoyo / Apanji Tohjaya
titl: 1249 - 1250, Tumapel, Raja Singasari
marvidigezh: 1250
Dewi Rumbi
ganedigezh:
? Putri
ganedigezh:
Prabhu Guningbhaya ? (Agnibhaya)
titl: 1230?, Kahuripan, Raja Kediri
1
2
? Wisnuwardana
ganedigezh:
Ranggawuni / Wisnuwardhana (Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kulama Dhurmadana Kamaleksana)
eured: Waning Hyun / Jayawardhani
titl: 1227, Singosari, Raja Singasari IV, 1227-1248M versi Negarakertagama, 1247-1249M versi Pararaton
Adityawarman / Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya (Tuan Janaka Gelar Mantrolot Warmadewa)
eured: Puti Reno Dewi Jalito / Putri Jamilah
titl: 1347 - 1375, Raja Malayapura I bergelar Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa
w Arya Kenceng
titl: Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Arya Kenceng dan saudara-saudaranya dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.
Arya Kenceng / Sirarya Kenceng
titl: Tabanan, Bali, Raja Tabanan I bergelar Nararya Anglurah Tabanan
eured: Putri II Brahmana Dari Ketepeng Reges
eured: Putri Bendesa Mas di Desa Tegeh
w Rahaden Cakradhara / Raden Cakradara (Kertawardhana Bhre Tumapel)
eured: Tribhuwana Wijayatunggadewi / Dyah Gitarja (Ratu Kenconowungu)
marvidigezh: 1386, Wafat 1386. abu jenasah di dharmakan di Candi Sarwa -Jayapurwa, Desa Japan - Pasuruan
Tribhuwana Wijayatunggadewi / Dyah Gitarja (Ratu Kenconowungu)
eured: w Rahaden Cakradhara / Raden Cakradara (Kertawardhana Bhre Tumapel)
titl: 1328 - 1350, Majapahit, Raja Majapahit III bergelar Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani
Prabu Guru Dharmasiksa / Prabu Sanghyang Wisnu
titl: 1175 - 1297, Raja Sunda Ke-25
2
3
Prabu Hayam Wuruk
ganedigezh: 1334
eured: w Sri Sudewi / Padukasori
eured: w Selir / Garwo Ampeyan
titl: 1350 - 1389, Majapahit, Prabu Majapahit IV bergelar Maharaja Sri Rajasanagara
marvidigezh: 1389
Rakryan Saunggalah / (Prabu Ragasuci)
eured: Dara Puspa
titl: 1297 - 1303, Raja Sunda Ke-26
marvidigezh: 1303
Raja Purana
ganedigezh: 1168
Kertanegara / Sri Jnanabajreswara (śrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadew)
eured: Dara Kencana , Sri Bajradewi
eured: Sri Bajradewi
titl: 1254, Kediri (East Java), Yuwaraja Kediri bergelar Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa
titl: 1268, Raja Singasari
marvidigezh: 1292
3
4
Bhre Kahuripan I
ganedigezh:
4
5
Rajasakusuma / Hyang Wekasing Sukma
marvidigezh: Putera Mahkota. Wafat 1427 sebelum menjadi raja
Dewi Suhita / Bhre Daha II (Dyah Ayu Kencana Wungu)
eured: w Hyang Prameswara / Bhre Kahuripan (Aji Ratnapangkaja)
titl: 1429 - 1447, Rani Majapahit V bergelar Prabu Stri Suhita
marvidigezh: 1447
Kertawijaya / Brawijaya I (Bhre Tumapel III)
eured: Jayawardhani Dyah Jayeswari / Bhre Daha Kapanca
titl: 1447 - 1451, Prabu Majapahit VII bergelar Sri Maharaja Wijaya Parakrama Wardhana (Brawijaya I)
marvidigezh: 1451
Jayanagara / Jayanegara (Raden Kalagemet)
ganedigezh: 1294
titl: 1295, Kediri (East Java), Yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha (Bhre Daha)
titl: 1309 - 1328, Majapahit, Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara
marvidigezh: 1328, Majapahit
5
Tud-kozh
Manggalawardhani / Bhre Tanjungpura (Dyah Suragharini / Putri Junjung Buih)
eured: Raden Rajasawardhana Dyah Wijayakumara/ Brawijaya II
titl: 1447, Menurut prasasti Waringin Pitu, Dyah Wijayakumara memiliki istri bernama Manggalawardhani Bhre Tanjungpura. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak, yaitu Dyah Samarawijaya dan Dyah Wijayakarana.
Tud-kozh
Kerent
Girishawardhana Dyah Suryawikrama / Bhra Hyang Purwawisesa (Dyah Suryawikrama / Brawijaya III)
titl: 1456 - 1466, Prabu Majapahit XI bergelar Brawijaya III
marvidigezh: 1466
Kerent
 
== 8 ==
Bondan Kejawen / Rahaden Bondhan Kejawan Aryo Lembu Peteng (Ki Ageng Tarub 3)
ganedigezh: Jurumertani sudah pada waktunya untuk mengirim Pajak Hasil Bhumi ke Kerajaan, dalam perjalanannya di ikuti oleh Bondan, yang tidak diketahui Jurumertani, Sesampainya di Kerajaan menyerahkan Pajakhasil Bumi, kemudian menghadap sang Prabu, Namun mendadak terdengan suara Gong Berbunyi, mengejutkan Sang Prabu dan seluruh isi kerajaan termasuk Jurumertani, setelah dikejar tertangkaplah seorang anak "Bondan", dan diserahkan pada sang Prabu, melihat kejadian itu Jurumertani terbelalak KAGET, dan menghampiri Prabu sambil berbisik Itu adalah Putera-sang Prabu. Sang Prabu menatap wajah si Bondan dengan seksama, kemudian penasehat spirituil Kerajaan menhampiri Sang Prabu berkata, Anak turun dari Anak itu (Bondan) akan menjadi Raja-raja ditanah jawa
ganedigezh: Petilasan Makam dari Bondan Kejawan ada : 3 Tempat yaitu : 1. Desa Taruban-Purwodadi, dari kota Purwodadi ke arah Blora Km 13 ada perempatan belok Kanan 2km ada Situs yang dikelola oleh Kasunanan Surakarto, dsisin ada makam Ki Ageng Tarub I, dan R Bondan Kejawan ( Ki Ageng Tarub II) 2. 1 Km dari sini ( Ds Taruban ) arah ke perempatan ada Tandingan seolah-olah Makam Bondan Kejawan 3. Sebelah barat Kota Yogya ( Jl Wates dkt SPBU) ada dusun Kejawen disana ada makan Bondan Kejawan Pahlawan Majapahit
eured: Retno Dewi Nawangsih
eured:
eured: Retno Dewi Nawangsih
17. Puteri Hadi / Putri Ratna Marsandi
ganedigezh: anak No 17 dari Bhre Kertabhumi ( Brawidjaja V ), suami dari Juru Paniti
eured: Juru Paniti
Raden Jaka Dhalak
ganedigezh: Diputus : 25677
Hario Dewa Ketul
micher: Bali, Adipati di Bali
Raden Jaka Lawu
marvidigezh: Java, Indonesia, Mount Lawu
Raden Jaka Buras / Raden Palingsingan
marvidigezh: Gunung Kidul
11. Raden Sudjana / Lembu Niroto
titl: Adipati Blambangan
== 8 ==
Bugale
Menak Simbar
titl: Adipati Puger
Bugale
Bugale-vihan
Menak Sumende
titl: Adipati Blambangan
Bugale-vihan
11
Menak Gadru
titl: Adipati Babatab
11
12
Menak Werdati / Menak Lampor
ganedigezh: NB: Eyang dari Raden Paku Sunan Giri. PANCER Trah Dermoyudo
titl: Jumeneng Bupati Blambangan
eured:
12
13
1. Sunan Rebut Payung / Menak Beduyu
ganedigezh: Leluhur/nenek moyang dari Trah Kasepuan - Kanoman
titl: Blambangan, Adipati Blambangan Timur bergelar Pangeran Rebut Payung
2. Menak Lapat
ganedigezh: Leluhur dari Trah Dermoyudo, ataupun Kromodjayan
titl: Lumajang, Adipati Blambangan Kulon (Barat) bergelar Adipati Lumajang
Nyai Lurah Sutodjayan
titl: Peneleh Surabaya
Nyai Wongsosuto
titl: Surabaya
Ψ Kyai Lanang Glangsing
titl: -1686, Pasuruan, Tumenggung Pasuruan
13
14
Pangeran Kedawung
titl: Blambangan Timur, Kasatriya
Menak Lumpat
titl: Kasatriya tangguh (sakti) di Grogolan Jawa Timur
Sunan Tawang Alun
titl: 1596, Jawa Timur - Banyuwangi, Raja Blambangan Wetan
14
15
Nyai Ageng Brondong
ganedigezh: Sedayu - Lawas / Lamongan, Puteri Ki Bimotjili dari Djungpangkah (Ujungpangka) di Sedayu Lawas Surabaya.
eured: w Ki Ageng Brondong / Pangeran Lanang Dangiran
w Ki Ageng Brondong / Pangeran Lanang Dangiran
ganedigezh: Di Desa Brondong – Sedayu Lawas, atau Paciran Lamongan tepi laut utara Jawa. Kiyahi Ageng Brondong memiliki keturunan Raden Tumenggung Panji Tjokronegoro I, Bupati Sidoarjo yang pertama, diambil dari silsilah pangeran Lanang Dangiran Kyai Ageng Brondong kang sumareh ing pesarehan sentono Botoputih Surabaya. Pangeran Lanang Dangiran Kiyahi Ageng Brondong. Kang Sumareh Ing Pesarehan “Sentono Boto Putih” Surabaya Riwayat Hidup Kiyahi Ageng Brondong Botoputih Suroboyo. Konon dituturkan Pangeran Kedawung, disebut juga Sunan Tawangalun adalah raja di Blambangan atau dikatakan juga Bilumbangan. Beliau mempunyai 5 orang anak dan diantaranya ialah pangeran Lanang Dangiran. Diceritakan bahwa Lanang Dangiran pada usia 18 tahun bertapa dilauy dan menghanyutkan dirinya diatas sebuah papan kayu sebuah beronjong (alat penangkap ikan), tanpa makan atau minum, arus air laut dan gelombang membawa Lanang Dangiran hingga dilaut jawa dan akhirnya suatu taufan dan gelombang besar melemparkan Lanang Dangiran dengan beronjongnya dalam keadaan tidak sadar, disebabkan karena berbulan-bulan tidak makan dan minum, dipantai dekat Sedayu. Seluruh badannya telah dilekati oleh karang, keong serta karang-karang (remis) sehingga badan manusia itu seolah-olah ditempeli dengan bakaran jagung yang disebut dengan bahasa jawa “Brondong” Badan Pangeran Lanang Dangiran diketemukan oleh seorang kiyahi yang bernama Kiyahi Kendil Wesi. Pangeran Lanang Dangiran dirawat oleh Kiyahi Kendil Wesi serta istrinya dengan penuh kasih sehingga sadar kembali dan akhirnya menjadi sehat seperti sediakala. Pangeran Lanang Dangiran menceritakan asal-usulnya kepada Kiyahi Kendil Wesi. Setelah Kiyahi Kendil Wesi mendapat keterangan tentang asal usulnya Pangeran Lanang Dangiran, maka diceritakan oleh Kiyahi tadi bahwa ia juga asal keturunan dan raja-raja di Blambangan yang bernama Menak Soemandi dimana beliau masih satu keturunan dengan Lanang Dangiran. Lanang Dangiran tinggal dan kumpul dengan Kiyahi Kendil Wesi, dan dianggap sebagai anaknya kiyahi sendiri. Pangeran Lanang Dangiran memeluk agama Islam, karena rajin dan keteguhan imannya serta keluhuran budinya serta kesucian hatinya, maka tidak lama pula ia dapat tampil kemuka sebagai guru Agama Islam, Pangeran Lanang Dangiran berisitrikan putrid dan Ki Bimotjili dan Panembahan di Cirebon yang asal usulnya dituliskan sebagai berikut : Pangeran Kebumen Bupati Semarang, berisitrikan putrid dan Sultan Bojong, bernama Prabu Widjaja (Djoko Tingkir). Ki Bomotjili adalah salah satu seorang putra dan Pangeran Kebumen tersebut diatas, seorang putri dan Ki Bimotjilimi bersuamikan Pangeran Lanang Dangiran alias Kiyahi Brondong (dimakamkan di Boto Putih). Nama Brondong diperoleh karena ia diketemukan oleh Kiyahi Kendil Wesi badannya dilekati dengan “Brondong” Kiyahi Kendil Wesi yang waspada dan mengetahui nasib seseorang, mengatakan kepada Lanang Dangiran yang sudah mendapat sebutan Kiyahi Brondong dan masyarakat sekitar tempat Kiyahi Kendil Wesi, supaya pergi ke Ampel Dento Suroboyo, dan meluaskan ajaran Agama Islam, karena di Surabaya Kiyahi Brondong kelak akan mendapat kebahagiaan serta turun temurunnya kelak akan timbul dan tambah menjadi orang-orang yang mulya. Kemudian Kiyahi Brondong dengan istrinya dan beberapa anaknya yang masih kecil pergi ke Surabaya dan pada Tahun 1595 menetap diseberang timur kali Pegiri’an, dekat Ampel ialah Dukuh Boto Putih (Batu Putih) ditempat baru inilah Kiyahi Brondong mendapatkan martabat yang tinggi dan masyarakat, karena keluhuran budinya Kiyahi Brondong (pangeran Lanang Dangiran) wafat pada tahun 1638 dalam usia + 70 tahun dan meninggalkan 7 orang anak, diantaranya 2 orang laki-laki yaitu : Honggodjoyo dan Honggowongso. Bupati Sidoarjo yang pertama adalah keturunan dan Honggodjoyo, Kiyahi Ageng Brondong (Pangeran Lanang Dangiran) dikebumikan ditempat kediamannya sendiri di Botoputih Surabaya makamnya dimulyakan oleh putra-putranya dan selanjutnya dihormati oleh turun-turunnya hingga kini. Semoga arwah beliau diterima Allah Swt, dan Allah Swt juga memberikan kepada seluruh keturunannya Kiyahi Ageng Brondong kemulyaan, kesehatan dan kesejahteraan sebagaimana beliau senantiasa mendoakan cucu cicitnya selama hidupnya. Ada hal penting yang anda ketahui bahwa bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sidoarjo, pejabat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo beserta rombongan merupakan agenda rutin berkunjung ke : Pesarean Asri ing Pendem untuk nyekar ke makam Bupati pertama Sidoarjo Raden Tumenggung Panji Tjokronegoro I wafat tahun 1863 Ke Pesarehan keluarga Tjondronegoro (belakang masjid Djamik/ Agung Sidoarjo) nyekar Raden Adipati Aryo Panji Tjondronegoro I wafat tahun 1906 Langsung menuju Pesarehan Boto Putih Surabaya ke makam Raden Tumenggung Adipati Aryo Tjondronegoro II (Kanjeng Djimat Djokomono).
titl: Surabaya, Pangeran Lanang Dangiran / Kyai Ageng Brondong sebagai PANCER = yaitu Leluhur/nenek moyang Trah Kasepuhan & Kanoman Surabaya / sebagai cikal bakal / pakem Sejarah Kasepuan – Kanoman Surabaya, atau Level 1 = Putera ke 2 Pangeran Kedawung ;
eured: Nyai Ageng Brondong
marvidigezh: 1638
Menak Koncar
titl: Kasatriya tangguh (sakti) di Lumajang Tengah
R Ayu Sunan Amangkurat I ((garwa ampean))
titl: Mataram, dipersunting Sunan Amangkurat I Raja Mataram di Tegalarum
15
Azmatkhan
Bhre Kahuripan VII
Bhre Mataram V
Bhre Pandansalas III
Bhre Tumapel III
Bhre Wengker III
Brawijaya V
Champa
Dharmasraya
Dharmasraya - Sumatera
Ken Arok
Kerajaan Champa
Kertanegara
Ki Ageng Brondong
Ki Bimotjili
Kuning
Lanang Glangsing
Majapahit Girindrawardhana
Melayu
Ring Pamotan
Singasari
Sriwijaya
Sunda-Galuh
Tan
Tdk ada catatan
Tumapel
Wangsa Rajasa
tdk ada Catatan